2009-03-23

Hening Kolaborasi di Desa Hening

Sabtu, 21 Maret 2009, 05.30
Atiek, Denik, Herni, Dekgus ... Wisnu, PPLH Bali, Walhi Bali

Kami sengaja bangun sebelum matahari terbit ...
Sebagai penggagas World Silent Day, kami berencana untuk secara konsisten melakukannya, di tengah keharusan aktivitas yang juga tidak bisa ditinggalkan.
Hari itu kami berada di Dukuh Sibetan, Karangasem dan harus melanjutkan perjalanan ke Kiadan Pelaga di Badung. Perjalanan antara kedua tempat tersebut bisa ditempuh dalam waktu tiga jam melalui Kintamani. Kami harus pergi pada hari itu untuk mempersiapkan pementasan bondres yang akan dilaksanakan di desa. Sehari sebelumnya kami juga mengunjungi Tenganan, untuk membicarakan hal yang sama.

Mengapa harus bertepatan dengan Hari Hening?
Dua minggu ini hampir semua orang Bali sibuk melakukan upacara. Dimulai dari Galungan, kemudian dilanjutkan Nyepi dan Kuningan. Hanya dua hari itu yang bisa dimanfaatkan untuk bepergian dan berkunjung ke desa. Jadi ... walaupun seolah dipaksakan, kami sudah menghitung bahwa kami bisa tiba di Pelaga tidak lebih dari jam 10 pagi, sehingga 'hening' bisa dilakukan di sana.

Jam 06.30 kami sudah berangkat dari rumah Pak Karsa di desa yang terkenal dengan buah salaknya. Dampak perubahan iklim sudah sangat dirasakan para petani di desa ini. Salak biasanya panen sebanyak 2 kali dalam setahun, yaitu panen raya di bulan Juli-Agustus dan panen gaduh (tidak sebanyak panen raya) di bulan Februari-Maret. Cerita para petani salak membuat trenyuh ... ternyata kali ini benar-benar gagal panen. Terlalu banyak air hujan yang menyiram kebun-kebun salak mereka, sehingga buah salak menjadi terlalu banyak mengandung air. Sebagian besar buah salak pecah dan busuk, tidak bisa dijual. Bahkan untuk dibuat wine juga tidak bisa. Dan bukan hanya salak ... pohon wani yang besar juga tidak berbuah. Mereka hanya berbuah sekali dalam dua tahun, dan biasanya pada bulan ini sudah dipenuhi buah. Tapi karena curah hujan yang lebih tinggi, bunga-bunga wani berguguran ...

Maka kami semakin mantap untuk secara konsisten melakukan 'hening'. Jam 09.30 kami sudah tiba di Kiadan. Walaupun masih kurang setengah jam, kami sudah sepakat untuk mematikan mesin mobil dan hape. Jalan kaki ke dalam kebun mencari Pak Japa. Dari kebun Pak Japa jalan kaki juga ke Pondok Wana, memutuskan untuk tidur-tiduran di bale bengong yang ada di sana. Awalnya memang ingin benar-benar tidur ... tapi ternyata waktu empat jam banyak diisi dengan obrolan santai untuk mempererat kekerabatan ... juga dengan alam karena kami ditemani Roy si anjing kintamani. Tepat pukul satu siang hujan turun dengan sangat deras, tapi kami tetap bertahan di bawah bale bengong. Paling tidak menunggu sampai benar-benar empat jam kami 'hening'.

Walaupun 'merasa seperti orang bodoh', ada banyak hal yang bisa dimaknai:
  • Suasana pagi hari tanpa polusi ternyata sangat cantik dan sehat
  • Obrolan yang banyak diselingi tertawa lebar (walau mungkin dianggap sangat tidak berkualitas) juga sangat menyehatkan, di samping bisa mempererat tali pertemanan
  • Melihat pemandangan hijau dan langit biru jauh lebih menyehatkan mata dibanding melihat huruf-huruf atau gambar di depan layar komputer atau laptop dan hape
  • Rasanya hidup jadi lebih nyaman tanpa dering suara hape ... tidak ada telpon dan tidak ada sms
Jadi ... mungkin memang harus sering-sering memaksa diri sendiri untuk diam ...

2009-03-17

Hening untuk Bumi Kita


Mari hening sejenak ...
Pada 21 Maret 2009, jam 10 pagi sampai 2 siang
Berikan bumi waktu untuk bernafas tanpa emisi gas rumah kaca
Walaupun hanya empat jam

Kalimat ajakan tersebut diteriakkan Herni di depan seputar bundaran Catur Muka, Denpasar. Bersama Siska, Herni rela berdiri di bawah terik matahari tanggal 16 Maret 2009 jam 10 pagi untuk mengkampanyekan Hari Hening Sedunia atau lebih dikenal dengan World Silent Day.

Gagasan ini muncul sejak bulan Agustus 2007 sebagai respon terhadap rencana perhelatan akbar konferensi perubahan iklim di Nusa Dua, Bali pada Desember 2008. Ketika film tentang Nyepi di Bali diputar selama satu menit dalam konferensi tersebut, gagasan World Silent Day mulai mendapat respon positif dari para peserta konferensi. Pilihan pada tanggal 21 Maret didasarkan atas posisi matahari pada ekuinox utara. Ternyata pada tanggal yang sama juga ditetapkan sebagai Hari Kehutanan Sedunia, dilanjutkan pada 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia.

Sampai saat ini, Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim masih terus mencari dukungan, terutama dalam bentuk tanda tangan sebagai satu upaya untuk dapat diajukan dan diakui oleh UN sehingga benar-benar bisa dikenal dan dilaksanakan oleh semua orang yang tinggal di bumi. Memberikan waktu istirahat bagi bumi dalam tugasnya menghirup gas rumah kaca.

Ajakan bergabung dalam World Silent Day tahun ini dilakukan juga dengan membagikan brosur kepada para pengguna jalan raya, juga di seputaran Catur Muka. Dilanjutkan dengan konferensi pers, mengajak teman-teman media untuk ikut menyebarluaskan informasi WSD. Tahun 2009 adalah tahun kedua WSD, silakan mengunjungi www.worldsilentday.org untuk informasi lebih lengkap dan meng'unggah' poster, stiker, atau kalender World Silent Day.

Salam hening untuk kita semua ...


2009-03-05

Menjelang Pemilu ... Ayo Ikut Dialog Politik

Wisnu bukan partai, dan tidak berafiliasi dengan partai politik. Tapi semua yang kita lakukan adalah berpolitik karena hidup itu sendiri tidak bisa terlepas dari masalah politik. Satu hal yang pasti, bukan politik praktis. Jadi kita juga perlu belajar tentang politik, dan melakukan dialog.

Kegiatan dialog politik antara pemilih dengan para calon legislatif dilakukan Wisnu menjelang pemilu 9 April 2009. Tema yang diambil adalah "Rakyat Bertanya, Caleg Bicara".
Bondres dipilih sebagai satu media untuk membuat dialog berjalan dengan santai dan mudah dalam menyampaikan pesan. KPUD dan Panwaslu Kabupaten diundang juga dalam setiap pelaksanaan dialog untuk memberikan gambaran tentang teknik pelaksanaan pemilu dan kondisi perpolitikan yang terjadi di masing-masing kabupaten.

Dialog dilakukan di delapan kabupaten di Bali, dan pada bulan Februari yang lalu sudah dilakukan di enam kabupaten.

1. Kabupaten Badung: tanggal 15 Februari 2009 di Bale Banjar Langon, Kapal, Mengwi2. Kabupaten Tabanan: tanggal 16 Februari 2009 di Hotel Vista, Pesiapan, Tabanan
3. Kabupaten Jembrana: tanggal 20 Februari 2009 di Desa Kaliakah, Negara

4. Kabupaten Bangli: tanggal 22 Februari 2009 di Bale Subak Taksu, Gunung Sari, Kedisan

5. Kabupaten Gianyar: tanggal 25 Februari 2009 di Tanah Merdeka, Puri Pejeng

6. Kabupaten Karangasem: tanggal 28 Februari 2009 di Hotel Puri Bagus, Candidasa


Kegiatan selanjutnya akan dilakukan di desa Sumberklampok, Buleleng pada tanggal 8 Maret 2009 dan Klungkung yang belum mendapat kepastian tanggal. Selain untuk 8 kabupaten, dialog juga dilakukan khusus untuk para caleg perempuan. Mohon kehadirannya pada tanggal 6 Maret 2009 jam 09.00 di Wantilah DPRD, Renon.

RAKYAT CERDAS MEMILIH PEMIMPIN YANG BERKUALITAS