2013-02-08
Kiki Puppy
2011-11-03
Keluarga Baru
2011-09-20
Lika-liku Implementasi SVLK di Bali
"Dua tamu langganan saya sudah tidak pernah muncul karena mereka menanyakan sertifikat legal. ... Sebagai pengrajin kecil, saya masih merasa sulit mencari sertifikat legal. Selain karena biayanya mahal - sekitar 4.000 euro, saya juga harus menyapkan tempat kerja yang sesuai standar ... Modal tidak cukup untuk menyiapkan semuanya."Penyiapan pengelola hutan rakyat dan industri kecil untuk memenuhi semua persyaratan administratif dan sistem produksi yang dipersyaratkan dalam Sistem Verifikasi Legalitas Kayu ternyata membutuhkan upaya yang lebih keras dan waktu yang sedikit lebih panjang. Dukungan dari pemerintah daerah berupa kemudahan birokrasi perizinan dan dukungan infrastruktur kebijakan masih juga dibutuhkan.
Catatan pembelajaran dari aktivitas selama lima bulan ini diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap atas berbagai hal tersebut, dan dapat menjadi pengingat bagi para pihak yang terkait untuk segera bergerak dan bertindak, untuk mendukung usaha kecil masyarakat dalam pengembangan hutan skala kecil serta industri furnitur dan kera jinan berbahan baku kayu lainnya.
"Kami sebenarnya sudah melakukan pengelolaan hutan lestari, jika diartikan sebagai segala bentuk pengelolaan hutan dan hasil hutan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara-cara tradisional ... Kekurangan kami adalah tidak melakukan pencatatan apapun setelah kami melakukan penanaman dan pemanenan."
_______________________
BALIWOOD BALIGOOD: Lika-liku Implementasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu di Bali
Penerbit: WIsnu Press
Penyunting: Atiek Kurnianingsih
ISBN: 978-979-97156-5-4
106 halaman, 15 x 21 cm
Harga: Rp 55.000,00
Hubungi: Denik Puriati (08990144896)
2011-09-19
BALIISME

Tidak lama lagi, hanya sepuluh tahun ke depan, yaitu pada tahun 2020 kesepakatan semua negara di dunia untuk menjalankan agenda pasar bebas resemi diberlakukan. Saat ini, ketika kesepakatan tersebut belum resmi diberlakukan, Bali telah merasakan dampaknya. Kepantingan pasarlah yang mengatur perdagangan dunia.
Apakah agenda pasar bebas yang meletakkan manusia individual sebagai sebjeknya dan alam sebagai objek bersifat materialism yang eksploitatif akan mampu menjaga keberlanjutan kehidupan dan menyejahterakan umat manusia?
________________________
Penulis:
- I Made Suarnatha
- I Ketut Sumarta
- IBM. Dharma Palguna
- AA. Ngurah Made Arwata
- Atiek Kurnianingsih
- Wayan P. Windia
Penerbit: Wisnu Press
200 halaman, 14,8x21 cm
ISBN: 978-979-97156-4-7
Harga: Rp 27.000,00
Hubungi: Denik Puriati (08990144896)
2011-08-23
Kunjungan ke Ketua Dekranasda Bali
Senin, 22 Agustus 2011
2011-03-08
BALI DWE: Desa Berdaulat Menuju Keterbukaan Dunia

Sertifikat Bali DWE memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai alat pemandu bagi masyarakat desa dalam mewujudkan wisata pedesaan yang berkualitas. Kedua, sebagai pemberi informasi bagi wisatawan tentang jenis dan kualitas "produk wisata pedesaan" yang akan dinikmati. Sistem standarisasi dan sertifiksi Bali DWE inilah sebagai cara nyata dan efektif untuk melestarikan kebudayaan Bali melalui kegiatan kepariwisataan.
(I Gede Ardika, Ahli Pariwisata)
Tren peningkatan pariwisata dunia dan Indonesia merupakan modal dasar yang prospektif. Pencanganan Tahun Indonesia Kreatif 2010-2025 membuka peluang berkembangnya industri kreatif dan juga pariwisata kreatif. Apresiasi dunia terhadap posisi Bali sebagai destinasi wisata pulau yang paling prima di dunia adalah modal pencitraan yang menarik dan positif. Fenomena budaya posmo yang mengapresiasi mengayakan keragaman dan kekinian desa-desa wisata yang menyodorkan keunikan dalam keragaman, berpotensi menjadikan Bali dan Indonesia daya tarik yang tidak monoton dan tetap variatif.
(I Wayan Geriya, Antropolog)
Menyayangi alam semesta sebagai wujud bakti kepadaNya dapat dilakukan dengan cara memelihara kelestariannya, menjaga kebersihan dan kesuciannya, mengembangkan fauna dan flora yang dipandang sebagai saudara, dan banyak cara lainnya. Bali Desa Wisata Ekologis (Bali DWE) merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian dan kesucian alam sesuai keyakinan Agama Hindu di Bali seperti tersebut di atas, di samping bertujuan mendapat manfaat yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan penduduk.
(Bhagawan Dwija, Spiritualis)
__________________________
DESA BERDAULAT MENUJU KETERBUKAAN DUNIA: panduan mengelola bersama potensi wisata ekologis
Penerbit: Wisnu Press
21x21 cm, 124 halaman
ISBN 978-979-97156-3-0
Harga: Rp 68.000,00
Hubungi: Denik Puriati (08990144896)
2009-07-31
Tiga Kegiatan "Masa Depan" di Bulan Juli
24 Juli 2009 - Fasilitasi Pelatihan Ekowisata untuk Wakatobi
Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko. Empat pulau di Sulawesi Tenggara. Sekelompok masyarakat yang ada di empat pulau tersebut sepakat untuk mengembangkan ekowisata di daerahnya masing-masing ... bukan sekedar menjadi pemandu wisata. Pelatihan dilakukan di kantor Taman Nasional Bali Barat, diikuti 20 orang dari keempat pulau dan 5 orang dari Taman Nasional di Wakatobi. Tanggal 26-nya mereka mengunjungi Nusa Ceningan untuk melihat ekowisata yang dikembangkan di sana.
29 Juli 2009 - Pertemuan Informal Ekowisata
Membuat standar sendiri ... mengapa tidak? Bali harus mempunyai standar wisata eko yang berdasarkan nilai lokal. Kultur dan ekologi menjadi satu hal yang sangat penting, bukan hanya fisik. Pak Gede Ardika sangat mendukung dan mempunyai pemikiran yang sama tentang hal itu. Pemuteran memberikan energi untuk mewujudkan hal tersebut.
30 Juli 2009 - Rembug RTRWP Masyarakat Sipil
Keruangan Bali harus dijaga bersama, salah satunya melalui pembuatan RTRWP yang mengakomodir kebutuhan masyarakat yang selama ini termarjinalkan. Sistem nilai dalam kultur yang selama ini hidup namun kadang dilupakan, harus dijadikan roh yang menghidupi RTRWP. Belajar dari Tenganan Pegringsingan, yang keberadaannya sudah ada sejak 1000 tahun lalu. Salah satu awig yang harus ditaati, "... tidak boleh barang siapapun orang desa itu menggadaikan atau menjual sawah, tegalan, pekarangan ..."
2009-01-28
Audit Keuangan Wisnu
Audit dilaksanakan pada tanggal 19-21 Januari 2009 oleh auditor Yohanes Joesoef. Hari I dan II dilakukan di kantor Wisnu untuk mencocokan antara rencana anggaran, laporan keuangan dan bukti-bukti pengeluarannya. Hari III dilanjutkan dengan kunjungan ke Tenganan Pegringsingan dan Dukuh Sibetan untuk melihat aktiva tetap yang dibeli kaitannya dengan program.
Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa data yang harus disiapkan:
- Akta pendirian
- Laporan keuangan terkait dengan program
- Laporan penggunaan dana per bulan
- Bukti-bukti pendukung
- Kontrak kerja karyawan terkait dengan program
- Kontrak sewa kantor
- Daftar aktiva tetap
- Laporan keuangan dan bukti kontribusi Wisnu pada program
- Kebijakan internal mengenai sistem keuangan dan akuntansi
- Laporan narasi kegiatan program
Maka berdasarkan audit yang dilakukan, ada satu pos pengeluaran dalam salah satu kegiatan yang tidak sesuai dengan rencana anggaran. Karena pelaksana kegiatan berasumsi bahwa jumlah yang harus dikeluarkan sama dengan kegiatan lainnya, mungkin ketidaktelitian terjadi ketika membuat proposal. Selain itu ada satu bukti yang tidak bisa ditemukan yang mungkin terjatuh karena pada audit yang sudah dilakukan sebelumnya bukti tersebut sudah ada. Hal penting lain adalah kontrak pada pihak terlibat tidak lengkap, terutama untuk kegiatan yang dibiayai KEHATI. Ketika awal kegiatan, hanya pihak IBL yang mengingatkan untuk membuat kontrak kerja, sehingga tidak dilakukan untuk pendanaan KEHATI.
Begitulah ... perlu kedetilan dan ketelitian dalam pelaporan keuangan. Belajar banyak dari hasil audit. Berdasarkan hasil temuan tersebut, apakah keuangan Wisnu sudah bisa dikatakan akuntable?
2009-01-17
Silaturahmi: Coba Paket WET
Rencana Pak Waldi untuk mencoba paket JED ke Tenganan sudah muncul pada kunjungan pertama ke Wisnu pada 21 Agustus 2008. Sampai akhirnya di hari Natal Pak Waldi sekeluarga memutuskan untuk benar-benar mencobanya pada tanggal 29 Desember. Namun apa mau dikata, mungkin memang belum waktunya untuk berkunjung ke Tenganan. Hari itu dan satu hari sebelumnya hujan lebat mengguyur Bali. Akan tidak nyaman beraktivitas di dalam hutan Tenganan ... jalan setapak di dalamnya pasti sangat licin.
Perkenalan kami dengan Pak Waldi, Bu Yani, Louna, juga Pak Made dan Ayu kecil diawali dari buku 'Simulacra Bali'. Mungkin itu sebabnya Tenganan menjadi pilihan untuk mencoba paket JED karena Simulacra Bali bercerita tentang ambiguitas antara tradisionalisasi dan modernisasi orang Bali melalui 'jendela' Tenganan.
Jadi, untuk menutupi kekecewaaan, paket WET - Wisnu Eco Tour bisa jadi pilihan. Sehari setelah tahun baru, ngobrol di kantor Wisnu.
Juga makan siang di antara hamparan sawah organik Wisnu. Nyam! Sederhana ... tapi dijamin sehat. Nasi dari beras lokal jenis somali yang diperlakukan secara organik, sayur yang dipetik di kebun sendiri, ditambah tahu dan ayam. Kalau dua lauk yang terakhir, pasti tidak organik karena dibeli di swalayan.
Sebagai bagian dari kegiatan ber-eco tour adalah foto di tengah sawah. Waduh! Sandal Louna nyemplung ke sawah ...
Maka datanglah Pak Suar sebagai penyelamat sandal Louna.
Sebetulnya Ibu Yani juga mengalami kejadian yang hampir sama dengan Louna, tapi tidak ada buktinya :)) Sebagai bagian akhir dari sebuah perjalanan ... mengembalikan semua perlengkapan yang digunakan untuk makan ke kantor Wisnu. Terima kasih untuk semuanya.
Komentara dari Pak Waldi, "Sungguh perjalanan akhir tahun yang amat berkesan dan memperkaya batin kami, khususnya bincang-bincang dengan Pak Suar yang energetik dan kreatif". Istilah Pak Waldi: ngangeni ... Baiklah! Kami tunggu kedatangan selanjutnya.2008-10-21
World Silent Day untuk Bumi Kita
WSD untuk Bumi Kita dimulai tepat pukul empat sore bersama siswa SD. Dimulai dengan memeriksa kelengkapan bagian tubuh siswa, menonton 'Ozzy Ozone', dan mendengarkan dongeng Pan Godogan. Karena matahari masih bersinar terang, gambar bergerak Ozzy dan teman-temannya terlihat tipis pada layar ... mungkin lain kali perlu ditonton ulang, untuk lebih mudah memahami nasib ozone bumi saat ini. Manusia diharapkan bisa berlaku lebih ramah terhadap alam untuk keberlangsungan di antaranya manusia itu sendiri. Kisah Pak Macan dan Sinchan yang didongengkan Pan Godogan juga memberikan pesan supaya manusia tidak bersikap serakah.

Pukul lima lebih 10 menit, acara untuk orang dewasa dibuka oleh Prami dan para undangan disambut oleh Pak Suar. Selanjutnya Lisa mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan, dilanjutkan pemberian penghargaan secara simbolik kepada mereka yang telah mendukung dan melaksanakan WSD. Kemudian Agung menginformasikan rencana Global Day of Action pada 6 Desember 2008 dan ajakan melakukan WSD 21 Maret 2009, ditutup dengan penyampaian Mas Ayip tentang website WSD dengan tampilan baru.

2008-09-03
Kegiatan Bulan September
Tanggal 9
Kunjungan 17 orang pemerintahan Taiwan, jam 09.30-11.20. Dalam rangka ingin mengetahui gerakan NGO di Bali yang berhubungan dengan kepariwisataan dan lingkungan. Diawali dengan perkenalan beberapa peserta, selain dari pemerintahan ada juga peserta yang berasal dari NGO namun tetap mendapat dukungan dari pemerintah. Dilanjutkan dengan presentasi tentang Wisnu, sejak awal berdiri sampai rencana program tahun 2012, dan JED terutama kegiatan ekowisata di empat desa. Pak Suar berbahasa Indonesia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Taiwan oleh VIP (rasanya sedikit tidak nyambung). Pada sesi diskusi menjadi lebih menarik, ketika salah seorang dari rombongan menjadi penterjemah dari bahasa Inggris ke Taiwan. Rasanya jauh lebih baik.
Tanggal 11
Kunjungan ke Pelaga (Pak Suar dan Denik). Agenda utama adalah membicarakan desain kemasan kopi dengan WKP dan banjar Kiadan. Kemungkinan nama kopinya akan berubah menjadi 'ijobang' yang diambil dari nama ayam aduan. Menurut orang-orang Pelaga, ayam aduan jenis ini selalu menang ketika bertanding, bahkan ketika adu ayam dilakukan di luar desa. Ayam jenis ini yang kemungkinan nantinya dijadikan icon desa karena kalau kopi ada di mana-mana. Bantuan mesin juga sudah didatangkan, saat ini masih berada di Wisnu.
Hal lain yang dibicarakan adalah aqua. Akankah terus berlanjut? Ketakutan masyarakat adalah ketika mereka tidak menerima proyek tersebut, proyek akan dilakukan di tempat lain padahal selama ini mereka yang melakukan pemeliharaan lingkungan namun 'tidak mendapat apa-apa'. Tepat seperti yang diperkirakan Pak Suar, bahwa politik adu domba masih sering diterapkan di Indonesia yang katanya sudah merdeka. Perjuangan masih sangat panjang, terutama untuk mengubah pola pikir 'saat ini' menjadi 'masa depan'.
Tanggal 13
Rapat JED di Wisnu. Tidak semua pemilik bisa hadir karena alasan 'iju'. Hanya hadir Sibetan, Pelaga, Wisnu. Beberapa hal yang perlu disepakati:
- Badan hukum JED adalah koperasi sekunder. Jika setuju, maka maksimat tanggal 27 September harus mengumpulkan akte koperasi, nama anggota, dan struktur kepengurusan
- Hubungan eksternal JED, jika hanya menyangkut hal teknis dimandatkan kepada Wisnu, kecuali untuk masalah substansial harus berdasarkan rapat JED
- Setiap orang yang dimandatkan untuk memberikan jasa konsultan atau berhubungan dengan pihak lain diwajibkan memberikan laporan singkat kegiatan dan pengalaman yang didapat
Rapat internal Wisnu tentang rencana kegiatan 'peneliti muda desa'. Program ditujukan untuk menumbuhkan pemahaman dan rasa kepedulian anak muda atas potensi wilayah yang dimiliki dan pengelolaannya. Tekstualisasi konsep besar akan dibuat oleh Bli Wayan Dirgayusa berdasarkan hasil rapat, proposal awal, dan proposal besar 2007-2012.
Tanggal 16
Buka Puasa Bersama tim Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim. Diawali dengan ngabuburit: rapat kolaborasi yang membicarakan hal kesekretariatan, kampanye, dan riset. Beberapa kesepakatan yang diambil:
- Tim SC (Hira, Suar, Agung, Panji, Catur) akan diketuai oleh Hira Jhamtani sekaligus sebagai representatif di tingkat internasional dan Agung di tingkat lokal. Pelaksana: Lisa, Siska, Diah
- Kampanye: 15 Oktober 2008 (laporan publik, launching website, informasi Global Day of Action, ajakan World Silent Day), bekerja sama dengan media TV dan radio, kolaborasi mengikuti UNFCCC di Poznan Polandia diwakili Agung, membuat kit dan memperbaiki website
- World Silent Day tanggal 21 Maret 2009 akan dilakukan dengan cara mengurangi penggunaan barang elektonik selama 6 jam (10.00-16.00)
- Survey awal untuk riset akan dilakukan 21-22 Maret 2008 di Nusa Ceningan serta riset lainnya untuk update data dan informasi WSD
Menghadiri upacara kematian di Sibetan. Turut berduka cita atas meninggalnya ayahanda Pak Suparta, kepala dusun Dukuh Sibetan.
Tanggal 19
Pernikahan I Botak, Tenganan. Selamat menempuh hidup baru. Sayang ketika tiba di Tenganan, pengantin sudah pergi ke tempat asal pengantin perempuan. Telat menghadiri resepsi pernikahan karena permasalahan mobil. Dan seperti biasa, tetap disuguhi makan siang dengan menu yang selalu sama: sate babi sebesar 'bagong'.
Tanggal 20
Rapat tim kecil kolaborasi, dihadiri Atiek, Hira, Dwi, Agung, Herni di PPLH Bali. Agenda utama adalah set up koordinasi dan komunikasi untuk website dan kesekretariatan. Hal mendesak adalah menata dan mengelola website serta membuat TOR kegiatan 15 Oktober 2008.
Tanggal 23
Jam 3 sore Pak Suar mengikuti rapat di Yayasan Manikaya Kauci tentang "skenario global menjerat pengrajin kecil Bali". Info dan artikel bisa diakses pada http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2008/09/30/bahan-diskusi-pada-acara-%e2%80%9cskenario-global-menjerat-pengerajin-kecil-bali%e2%80%9d/.
Tanggal 25
Pak Suar menghadiri workshop 'sosialisasi manfaat code of conduct bagi pelaku usaha di Bali' di Bali Garden Hotel.
Tanggal 26
Tenganan, pertemuan dengan anggota KSU Danendra. Ada dua pertemuan yang berbeda namun saling terkait. Jam 17.30 di kantor desa bersama Ian Cunningham dari EWB tentang proyek pendistribusian air bersih. Perlu fasilitasi untuk pertemuan PSAB (Pengelola Sarana Air Bersih) Tenganan terkait dengan peningkatan kapasitas dalam pemahaman 'skenario pilihan dan resiko' rencana pendistribusian air.
Pertemuan lanjutan di tempat yang sama tentang manajemen pengelolaan selip beras yang belum juga berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil analisis setelah mengenal Tenganan selama hampir 10 tahun dengan berbagai legenda dan cerita di dalamnya, masyarakat Tenganan yang selama ini berperan sebagai petani pemilik sedang mengalami pergolakan untuk coba memulai menjadi juga petani pengelola. Ternyata secara psikologis hal tersebut tidaklah mudah, walaupun hampir semua fasilitas sudah ada di Tenganan. Mudah untuk memilih dan mengatakan,"serahkan saja pengelolaannya pada ahlinya yang memang sudah berpengalaman." Namun jika hal mudah itu dilakukan, apa bedanya Tenganan dengan pemerintah Indonesia yang selalu menyerahkan pengelolaan sumberdaya yang begitu kaya yang dimiliki pada kaum kapitalis profesional yang selalu dianggap ahli dan sangat berpengalaman.
Tanggal 30
Kunjungan Anita Barraud dari Australian Broadcasting Corporation dan Neil Trevithick dari British Broadcasting Corporation ditemani Sonia yang berperan sebagai interpreter. Wawancara Pak Suar tentang kegiatan Wisnu terkait dengan lingkungan, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat kaitannya dengan dinamika perpolitikan di Indonesia. Satu hal yang perlu dipelajari: kepraktisan dan ke-profesional-an dalam melakukan wawancara dan merekamnya, termasuk suara-suara alam: burung, babi, ikan.
2008-09-01
Kegiatan keLuar di Bulan Agustus
Tamu yang Berkunjung ke Wisnu di Bulan Agustus
Tanggal 8
Bapak Yosep dari Aqua Mambal dan Ibu Permaningsih (Vice President Corporate Secretary Aqua). Aqua berencana membuka pabrik baru di wilayah Pelaga dengan tidak memanfaatkan air permukaan, melainkan air tanah dalam dengan alasan suplai aqua untuk pemenuhan kebutuhan Bali saat ini tidak mencukupi dan perlu banyak biaya kalau harus mendatangkan dari Jawa. Menurut Ibu Permaningsih, tim aqua sudah melakukan survei lokasi, bertemu masyarakat Pelaga, dan meminta masukan dari Yayasan KEHATI, Jakarta sebagai organisasi lingkungan yang bekerja sama dengan Pelaga. Dan hari itu, meminta pendapat Pak Suar tentang rencana tersebut.
Ada beberapa hal yang perlu direnungkan:
Idealisme Wisnu dan masyarakat empat desa adalah pengelolaan sumberdaya komunitas secara adil, transparan, dan berkelanjutan; Kesepakatan bersama yang dibangun adalah melakukan ekowisata atau eco-tourism (economy, ecology, evaluating community oppinion) dalam upaya menuju kemandirian pangan dan energi dari sumberdaya wilayah yang dikelola sendiri serta mengurangi ketergantungan pada pihak luar; Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang artinya melarang adanya penguasaan sumberdaya alam di tangan orang-seorang dalam bentuk monopoli, oligopoli, maupun privatisasi
Tanggal 14 dan 29
Chris Mejeur, warga Australia yang menikah dan tinggal bersama masyarakat Bajau selama 15 tahun. Memutuskan untuk mencoba tinggal di Bali karena anaknya sudah harus bersekolah. Setelah mencari-cari, memutuskan untuk mencoba bersekolah di Kul Kul School, Sibang.
Sampai akhirnya PT Bamboo melalui John Hardy sebagai pemilik usaha dan sekolah tersebut memintanya membantu ‘mendistribusikan bibit bambu kepada masyarakat sekitar’. Alasan ideologisnya adalah PT Bamboo ingin bekerja sama dengan masyarakat sekitar dan mengurangi pencemaran akibat asap truk yang dikeluarkan dari Jawa ke Bali.
Chris sebagai seorang antropolog berpendapat bahwa mendistribusikan bibit bambu bukan sekedar pekerjaan membagi-bagi dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Kemudian ingat Wisnu karena tahun 2005 pernah berkeliling desa JED bersama para antropolog Australia, selain karena masukan dari Ibu Carol Warren, dosen pembimbingnya di Perth. Belum tahu akan seperti apa, rencana terdekat adalah berkunjung ke lokasi dimaksud.
Tanggal 21
Bapak Waldi Nurhamzah dan Ibu, putri mereka Louna, serta Pak Made dan putri kecilnya yang selalu menemani setiap Pak Waldi sekeluarga ke Bali. Beliau sendiri dan keluarga tinggal di Jakarta, sebagai pengasuh rubrik tanya jawab kesehatan anak di tabloid Nova.
Berawal dari kecintaan Pak Waldi sekeluarga terhadap Bali (Louna adalah seorang penari Bali), ketika ke toko buku beliau tertarik dengan buku Simulacra Bali terbitan Insist Press. Dan langsung menghubungi Wisnu via email, sampai akhirnya berjanji pada kunjungan berikutnya ke Bali akan mampir Wisnu.
Terima kasih, Wisnu adalah tempat pertama yang didatangi setelah mendarat di Bali. Jalan-jalan keliling Wisnu: lihat kebun sayur, pinky babi yang mulai menghasilkan biogas, dan menikmati angin carik di bale bengong. Terima kasih juga Pak, untuk oleh-olehnya. Senang sekali mendapat kenalan baru yang mendukung kegiatan Wisnu dan JED.
Tanggal 22 dan 29
Ibu WKP (Wahana Kriya Putri) dan Alex, voluntir dari AYAD menindaklanjuti kerjasama pembuatan kemasan kopi Pelaga. Kemasan yang sudah ada saat ini dianggap kurang eye catching, sehingga perlu dibuat yang baru. Contoh desain dari kemasan yang ada sudah dilampirkan, kemasan akan dibuat berdasarkan contoh-contoh tersebut. Selain itu, WKP juga akan memberikan bantuan mesin penggiling kopi bubuk untuk Kiadan Pelaga.
Tanggal 26 dan 27
Pak Roem Topatimasang bersama teman-teman FASID dari Tokyo (Naomi Okiyama, Rie Yamada, Nagahata Makoto). Survei awal untuk rencana internship tahun depan ke desa JED selama 2 minggu. Selama tujuh tahun ini di bulan Agustus mereka melakukan internship di Makasar untuk mengenal kehidupan masyarakat lokal di Indonesia. Namun karena tahun depan bertepatan dengan bulan puasa, dicari alternatif daerah lain yang tidak berpuasa.
Pak Suar menemani mereka ke Tenganan, Sibetan, dan Pelaga untuk mendapat gambaran tentang desa JED. Tampaknya mereka tertarik, namun tergantung keberlanjutan dana dari pemerintah Jepang. Setelah didiskusikan lebih jauh, tempat yang mungkin dipilih adalah Ceningan supaya para peserta yang berjumlah sekitar 20 orang ter’isolir’ di satu tempat. Tujuan untuk memahami kondisi dan kehidupan masyarakat lokal diharapkan lebih efektif.
Tunggu berita selanjutnya tahun depan.
Tanggal 29-31
Sheila dan mas Basuki dari Yayasan KEHATI, Jakarta. Datang untuk melihat laporan keuangan Program YEEI yang dilakukan Wisnu. Mencocokan antara catatan transaksi harian dengan bukti pemasukan dan pengeluaran. Kunjungan dimanfaatkan juga mencari informasi tentang koperasi dan usaha ekonomi yang dilakukan kelompok di desa. Tidak lupa juga … jalan-jalan di Bali :))










