Tampilkan postingan dengan label Pendidikan - Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan - Pertanian. Tampilkan semua postingan

2013-04-08

Sumberdaya Genetika dan Pengetahuan Kesemestaan


Sumberdaya genetik atau plasma nutfah adalah bahan tanaman, hewan, jasad renik, yang mempunyai kemampuan untuk menurunkan sifat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada tanaman, sumber daya genetik terdapat dalam biji, jaringan, bagian lain tanaman, serta tanaman muda dan dewasa. Pada hewan atau ternak sumber daya genetik terdapat dalam jaringan, bagian-bagian hewan lainnya, semen, telur, embrio, hewan hidup, baik yang muda maupun yang dewasa. Banyak spesies tanaman di Indonesia memiliki keanekaragaman sumberdaya genetik tinggi dan persebarannya meliputi berbagai daerah. Setiap daerah di Indonesia memiliki beberapa sumber daya genetik yang khas, yang sering berbeda dengan yang ada di daerah lain. Contohnya adalah beberapa varitas padi yang khas.

Aturan perlindungan atas sumberdaya genetik kemudian dituangkan dalam Protokol Nagoya. Protokol ini mengatur akses kepada sumberdaya genetik dan pembagian keuntungan yang adil dan seimbang yang timbul dari pemanfaatannya atas konvensi keanekaragaman hayati. Protokol Nagoya diharapkan menjadi suatu pengaturan internasional yang komprehensif dan efektif dalam memberikan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia dan menjamin pembagian keuntungan bagi Indonesia sebagai negara kaya sumberdaya genetik. Keanekaragaman hayati merupakan tumpuan hidup manusia, karena setiap orang membutuhkannya untuk menopang kehidupan, sebagai sumber pangan, pakan, bahan baku industri, farmasi dan obat-obatan.

Bali sendiri sudah melakukan perlindungan atas sumberdaya genetiknya sejak ratusan tahun silam, melalui ritus adat, pemanfaatannya sebagai obat dan kosmetik, juga melalui aturan desa. Berbagai jenis tanaman dan hewan dalam banten digunakan sebagai inti kelengkapan pelaksanaan upacara adat dan agama di Bali. Artinya, segala jenis keanekaragaman hayati tersebut harus tetap dijaga keberadaannya agar upacara yang dilakukan mencapai kesempurnaan. Penghormatan dan ungkapan rasa terima kasih atas kelimpahan sumberdaya genetik juga dilakukan melalui beberapa praktek tradisi yang juga bertujuan untuk merawat dan memanfaatkan sumberdaya tersebut.

Usada Taru Pramana yang juga ditulis dalam lontar merupakan salah satu pengetahuan “tua” Bali tentang pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan untuk obat, termasuk kosmetik. Lontar usada tidak hanya berisikan mantra-mantra dan ritual pengobatan, melainkan juga mengupas seluk-beluk berbagai jenis penyakit lengkap dengan aneka ramuan obat yang memanfaatkan tanaman-tanaman (herbal) yang tumbuh di daratan Bali. Ramuan obat tradisional Bali itu diyakini jauh lebih aman untuk dikonsumsi dan tanpa efek samping dibandingkan obat-obatan kimia. Mengingat mayoritas ramuan obat itu berbahan baku tanaman, maka langkah itu wajib disertai dengan upaya pelestarian tanaman-tanaman berkhasiat obat itu sendiri.

Sementara, aturan perlindungan atas sumberdaya genetik masih bisa dilihat jelas di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Desa yang keberadaannya sudah tercatat dalam lontar sejak abad ke-11 ini masih memegang teguh dan menjalankan aturan desanya, yang di dalamnya mengatur perlindungan dan pemanfaatan berbagai jenis tanaman. Salah satu pasalnya mengatakan bahwa “Pohon yang ada di dalam wilayah Tenganan Pegringsingan tidak boleh ditebang sembarangan, terutama pohon nangka, tehep, kemiri, pangi, cempaka, durian, dan enau. Khusus untuk enau, pohon boleh ditebang kalau sudah selesai berbuah.”

Keunikan potensi masing-masing wilayah perlu dipahami dan dimaknai secara utuh dalam kehidupan keseharian. Kemampuan desa memahami dan memaknai potensinya sangat dibutuhkan dalam upaya menghadapi “banjir” orang, barang, dan jasa. Dalam hal ini, dibutuhkan juga kerja sama antar desa, jejaring pengelolaan sumberdaya komunitas untuk menyikapi pasar bebas. Selain itu, sinkronisasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, swasta dalam menjaga keunikan masing-masing wilayah menjadi sangat penting, terutama kaitannya dengan pembagian keuntungan yang adil dan seimbang yang timbul dari pemanfaatannya atas konvensi keanekaragaman hayati.
 
Yayasan Wisnu, pada tanggal 28 Februari 2013 menyelenggarakan diskusi terkait hal tersebut. Bekerja sama dengan Yayasan KEHATI, Jakarta dan Kementerian Lingkungan Hidup, kegiatan dihadiri oleh beberapa desa pakraman di Bali dan individu yang tertarik dan berkepentingan atas kelestarian sumberdaya genetik. Kegiatan dilaksanakan di ruang terbuka Wisnu, dinaungi pohon ketapang yang sudah tumbuh sejak lebih dari sepuluh tahun. Oksigen yang dikeluarkan dan diberikan sang Ketapang membuat diskusi berjalan dalam atmosfer kekeluargaan dan tetap segar sampai acara berakhir.

Kegiatan dibuka oleh Deputi III Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup. Secara umum dikatakan bahwa pada dasarnya Protokol Nagoya ditujukan untuk melindungi sumberdaya genetik, dengan mengatur "transaksi kekayaan" ketika "diminati" oleh negara lain. Kemudian, secara berturut-turut sebagai narasumber adalah:
  • Bapak Ketut Sumarta, Sekjen Majelis Utama Desa Pakraman - Keragaman Hayati Duwe Desa Pakraman
  • Putu Wiadnyana, Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan - Aturan Desa Adat dalam "Pengamanan" Tanaman Desa
  • Bapak I Made Sujana, Banjar Dukuh Desa Sibetan - Wine Salak, Upaya "Intervensi" Kapital atas Duwe Desa
  • Ibu Dayu Rusmarini, Puri Damai - Pemanfaatan Sumberdaya Genetik untuk Pengobatan dan Kosmetik
  • Ibu PK Diah, Universitas Udayana - Pemanfaatan Sumberdaya Bambu dan Pembagian Keuntungan kepada Masyarakat
Kemudian dilengkapi oleh Dr. Suryadarma, Universitas Negeri Yogyakarta - Hak Masyarakat Adat atas Sumberdaya Hayati. Juga Ibu Miranda Risangayu dari Kementerian Lingkungan Hidup yang mengatakan bahwa saat ini Indonesia sebagai negara tidak sadar dengan kekayaan atas sumberdaya dan tradisi yang dimiliki. Protokol Nagoya hadir untuk membuat pembagian keuntungan yang lebih seimbang, tidak menjadi obyek komodifikasi dan ekonomi.

Diskusi ini merumuskan beberapa kebutuhan, yaitu:
  • Identifikasi kebutuhan ritual, terutama yang langka (perlu inventarisasi semua jenis tanaman di Bali sebagai dasar pengumpulan data di setiap desa)
  • Memasukkan hasil identifikasi sumberdaya genetik bagi program MUDP
  • Membuat aturan tentang penggunaan buah lokal sebagai bahan banten
  • Pelatihan PRA untuk pengumpulan data dan pemetaan sumberdaya genetik
  • Mencetak Rukmini Tattwa dan Usada Sawah
 
 
 


2013-03-09

Pelatihan Pengolah Umbi dan Desalinasi di Ceningan

Hari Kamis, tanggal 21 Februari 2013. Sekitar 30 orang berkumpul di Sektretariat Sekaa Teles. Tempat ini belum selesai dibangun. Nantinya, tempat ini akan dijadikan sebagai warung sehat, untuk menjual berbagai macam hasil olahan pangan - yang tanpa menggunakan MSG, juga perasa dan pewarna sintetik. Hal penting, bahan yang diolah adalah bahan-bahan yang dihasilkan oleh para petani Sekaa Teles - Kelompok Tegalan Lestari di Desa Lembongan. Anggota kelompok ini melakukan upaya pemeliharaan atas ibu pertiwi, mengelola lahan darat pulau untuk memenuhi kebutuhan pangan dan memaknai kehidupan.


Singkong dan jagung adalah dua hal penting yang dihasilkan. Maka, keduanya menjadi potensi penting untuk bisa memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat akan pangan sehat, serta "mengisi" ruang di warung sehat. Tahap awal yang perlu dilakukan adalah berlatih mengolah singkong dan jagung menjadi lebih bervariasi, dengan bentuk dan warna yang menarik. Tujuannya, supaya ada banyak orang yang tertarik untuk mengkonsumsi, terutama anak-anak. Sehingga, anak-anak di Lembongan bisa mengurangi bahkan tidak lagi memakan "sampah".

Selama tiga hari para Ibu berlatih bersama Ibu Hani dari Anak Bumi Tani - Yogyakarta mengolah singkong dan jagung dari kebun mereka. Ada delapan resep yang dipraktekkan: dadar gulung, nugget ikan, saos tomat, sirup jagung, putu ayu, puding singkong, potil, dan es krim singkong. Nyam!!! Dan inilah hasilnya.




Salah satu syarat supaya kedua jenis tanaman tersebut, dan tanaman lainnya dapat tumbuh subur adalah air. Sementara, Desa Lembongan, termasuk Ceningan sebagai pulau mempunyai keterbatasan dalam ketersediaan air tawar. Maka, air laut yang berlimpah dan air payau dari sumur galian kemudian diupayakan menjadi tawar. Selama dua hari, para Bapak berlatih bersama Pak Noldy dari Geng Motor Imut - Kupang membuat desalinator air laut, supaya bisa mempermudah kehidupan mereka, terutama untuk para Ibu. 

Alat desalinator terdiri dari dua bagian primer, yaitu bak penampung air laut berkonstruksi kuda-kuda kayu dengan bagian dasar dan dinding dari plastik/karpet karet atau cetakan fiberglass/aluminium yang dibuat berwarna hitam serta penutup penangkap uap air yang dapat terbuat dari plastik bening/kaca phyrex/mika. Antara penampung dan penutup diberi lapisan lembaran busa agar kedap udara dan mempercepat penguapan. Desain penutup dapat berbentuk piramid, kubah atau kerucut dan ini mempengaruhi bentuk bak penampung air laut. Penutup ini, kemudian diparalelkan dengan dengan bagian sekunder, yaitu pipa/corong berselang sebagai pengalir air tawar dari penutup penangkap uap air ke media penampung air tawar. 





Melalui dua hal ini, diharapkan lahan darat Lembongan semakin terpelihara melalui pengelolaan yang ditujukan untuk merawat dan memelihara ibu pertiwi. 

2011-11-03

Keluarga Baru

Telah lahir dengan selamat pada tanggal 3 Nopember 2011, jam 08.30 di halaman selatan kantor Yayasan Wisnu. Laki-laki, panjang 80 cm, warna coklat kehitaman. Ajaib! Tidak sampai satu jam, sang bayi sudah langsung bisa berjalan. Terima kasih untuk semua dukungan alam semesta ...

2011-09-15

Sarasehan Pangan Sehat


Rabu, 8 Juni 2011 - Sarasehan Pangan Sehat

Kimpul, mushroom chips, tortila, emping garut, kerupuk ganyong, rengginang ... juga berbagai macam kue kering. Abon, susu, kecap juga ada. Semua tertata di atas meja, di Warung Beten Gatep. Hampir sama dengan barang-barang yang ada di pasar atau swalayan. Bedanya, semua yang ditata adalah makanan yang terbuat dari bahan-bahan organik, serta bebas zat pengawet dan pewarna. Bahkan, di antaranya ada yang tidak mengandung gluten.

Gluten adalah protein lengket dan elastis yang terkandung di dalam beberapa jenis serealia, terutama gandum, jewawut (barley), rye, dan sedikit dalam oats. Jadi, gluten ada dalam roti, biskuit, pasta, sereal sarapan (breakfast cereal), mi, dan semua jenis makanan yang terbuat dari tepung terigu. Dalam proses pembuatan roti, gluten bermanfaat untuk mengikat dan membuat adonan menjadi elastis sehingga mudah dibentuk.



Bagi mereka yang sensitif terhadap gluten, mengkonsumsi gluten dapat menimbulkan efek buruk, seperti alergi dan penyakit seliak (coeliac disease). Termasuk, anak autistik disarankan untuk menjauhi gluten dan kasein (protein yang terkandung dalam susu). Kedua protein ini dianggap sebagai racun karena tubuh autistik tidak menghasilkan enzim yang dapat mencerna gluten dan kasein - sehingga dapat mengganggu fungsi otak dan sistem imunitas, serta menimbulkan gangguan perilaku.

Hal itulah yang mendorong Ibu Christien Ismuranty memproduksi produk-produk KAINARA, ketika Kay - anak ketiganya diketahui autistik. Tidak ada makanan yang tersedia di pasar atau swalayan, bisa dipilih dan 'aman' untuk Kay. Setelah mengkonsumsi makanan pabrik, Kay cenderung berperilaku sangat aktif. Sementara, Kay juga memerlukan makanan yang bisa 'memanjakan' lidahnya. Bukan hanya Kay, ada anak lain yang juga mengalami hal serupa ...

Makanan 'alami' dan bervariasi

You are what you eat ...jadi, bukan hanya bagi autistik, kita juga harus memilih apa yang kita makan. Semakin alami dan bervariasi, semakin baik untuk tubuh kita:
  1. Masing-masing warna alami pada makanan, seperti merah pada tomat, hijau pada brokoli, dan kuning pada kunyit mempunyai fungsinya masing-masing ... jadi semakin banyak warna alami makanan yang kita konsumsi, semakin bagus untuk kesehatan
  2. Makanan segar, apalagi yang baru dipetik mengandung berbagai zat dan vitamin yang masih utuh. Sangat bijaksana jika kita mau menanam sendiri, paling tidak mengkonsumsi makanan lokal (bukan impor)
  3. Tubuh membutuhkan banyak variasi makanan, termasuk sumber karbohidrat. Nasi putih bukan satu-satunya sumber karbohidrat, bisa juga didapat dari nasi merah. Selain itu, Indonesia juga dikarunia dengan beraneka macam umbi yang kaya karbohidrat dan bebas gluten

Dan ... akan semakin sempurna jika kita bisa memilih dan memakan makanan organik. Saat ini, makanan organik masih agak sulit ditemui dan harganya masih lebih tinggi dibanding yang tidak organik. Maka, pilihan bijaknya adalah menanam sendiri sayuran yang kita makan. Demikian yang disampaikan Ibu Hira Jhamtani, memperkuat cerita Ibu Christien. Ibu Hira ketika itu membawa lontong singkong buatan sendiri. Singkong diparut, dicampur sagu, bungkus daun pisang, kukus. Bisa membuat banyak sekaligus, disimpan dalam lemari es. Kalau mau makan, hanya perlu dipanggang sebentar.

Ajakan tambahan dari Ibu Hira:
  1. Tubuh yang sehat berasal dari semua yang sehat. Jadi, sebisa mungkin hindari MSG, zat pengawet, pewarna buatan, dan zat kimia lainnya
  2. Bisa karena biasa. Salah satunya, biasakan untuk mengkonsumsi makanan sehat dan segar yang bukan buatan pabrik
  3. Salah satu dampak perubahan iklim adalah hasil panen yang menurun, termasuk padi. Salah satu cara beradaptasi terhadap hal tersebut adalah mengkombinasikan sumber karbohidrat, antara nasi dengan umbi karena umbi terbukti lebih tahan terhadap perubahan iklim dibanding padi


Sarasehan ditutup dengan pemutaran film "Dilarang Makan Sampah". Film menceritakan tentang kondisi satu desa di Sulawesi. Hampir semua anak-anak sekolah dasar di desa tersebut mengkonsumsi "sampah" setiap hari, yaitu makanan ringan yang banyak mengandung zat pengawet, perasa, dan pewarna kimia. Kandungan dalam makanan tersebut secara perlahan akan meracuni tubuh. Padahal, desa tersebut mempunyai beragam makanan sehat. Maka, mari kita mulai makan makanan sehat ... seperti makan siang saat sarasehan selesai: pepes jamur, belut goreng, tempe bacem, sayur urap, jukut undis, dan nasi sela. Nyam ... !!!

2010-06-11

Identifikasi Tanaman di Wisnu


Identifikasi tanaman dilakukan sebagai bagian dari program pengolahan data dan informasi. Kegiatan ini ditujukan untuk mengetahui berbagai jenis tanaman yang tumbuh di areal Wisnu, meliputi pohon, perdu, dan tanaman budidaya, juga untuk mengetahui fungsinya sebagai tanaman pangan, obat, dan kebutuhan upacara. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari pengembangan pertanian yang dilakukan oleh Sekaa Tales (Tani Lestari).

Sedikitnya ada 50 jenis pohon (tanaman keras) yang sudah berhasil diidentifikasi, di antaranya gatep dan sukun. Gatep atau gayam (Inocarpus edulis) kemudian dijadikan nama untuk warung yang berada di bagian depan areal Wisnu. Karena letaknya di bawah pohon gatep, maka dinamakan Warung Beten Gatep. Buahnya bisa direbus dan dijadikan tepung. Daunnya bisa untuk mengobati kencing batu dan untuk obat bisul, sementara kulit pohon untuk mengobati rematik. Bijinya bisa juga digunakan sebagai sumber bahan bakar nabati. Di Bali, buah gatep digunakan sebagai kelengkapan banten bagia pule kerti, pengadang-adang, dan dewa-dewi.

Sementara jenis perdu diidentifikasi sedikitnya 34 jenis. Rambusa (Passiflora foetida) adalah jenis yang berbunga paling cantik. Mirip seperti bunga markisa (Passiflora edulis) namun ukurannya lebih kecil. Buahnya bisa dimakan dan pucuk daun bisa dimasak sebagai sayur. Jenis lain yang menarik adalah kembang bintang atau kitolod (Isotoma longiflora). Bunganya yang seperti bintang berfungsi untuk mengatasi gangguan mata dan katarak. Sementara getahnya yang mengandung racun berfungsi sebagai antiradang, antikanker, menghilangkan nyeri dan menghentikan pendarahan.

Juga ada beberapa jenis teratai atau padma di kolam Wisnu. Sedikitnya ada tiga jenis, yaitu teratai putih (Nymphaea odorata), teratai merah (Nymphaea rubra), dan teratai ungu (Nymphaea nouchali). Tanaman lain yang cukup banyak adalah anggrek, yang sampai saat ini belum dilakukan identifikasi terhadap jenis yang ada.

Hasil identifikasi ini nantinya akan diterbitkan dalam bentuk buku. Selain berisi berbagai jenis tanaman yang ada di Wisnu, buku ini juga akan menceritakan proses pertanian yang dilakukan oleh Sekaa Tani Lestari. Saat ini kegiatan yang sedang dilakukan adalah penyiapan lahan dan renovasi kandang sapi sebagai sumber energi alternatif.

2008-09-02

Nasib Tomat Wisnu

Terkait dengan cerita sebelumnya tentang tanaman terong di Wisnu, jenis tanaman lain yang diteliti adalah tomat. Kali ini oleh G.A. Fransiska Sri Rahajeng Kusuma Dewi, juga mahasiswa jurusan hama dan penyakit tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

Jenis tomat yang ada di Wisnu adalah tomat apel (Lycopersicon esculentum Mill). Lengkapnya kerajaan Plantae, subkerajaan Tracheobionta, divisi Magnoliphyta, kelas Magnoliopsida, subkelas Asteridae, ordo Solanales, keluarga Solanaceae, genus Lycopersicum. Buah tomat dapat langsung dimakan, dibuat minuman, sayuran, bahan pewarna, bahan kosmetik dan obat-obatan. Tomat dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan selera makan, terutama bagi penderita anoreksia. Karoten yang terkandung di dalamnya juga dapat menghambat perkembangan sel kanker.

Saat ini ada sekitar 60 tanaman tomat ditanam di atas dua bedeng lahan berdiameter 2,5 meter dan satu bedeng tidak beraturan berukuran sekitar 6 x 2 meter dengan tinggi rata-rata tanaman adalah 1,5 meter. Kondisinya cukup mengenaskan, kurus dan kering di beberapa bagian tanaman. Buah yang dihasilkan juga sedikit dan berukuran lebih kecil dibanding panen sebelumnya. Walaupun bisa mencapai diameter 6,3 cm, namun sebagian sudah mulai matang pada diameter 3,5 cm.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Siska, diketahui bahwa ada beberapa jenis hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman tomat di Wisnu. Kerusakan terbesar (80%) disebabkan oleh Liriomyza sativae Mill atau yang dikenal dengan lalat penggorok daun. Serangga inilah yang menyebabkan buah yang dihasilkan tidak maksimal, lebih sedikit dan berukuran relatif kecil. Serangan paling mencolok terjadi pada fase larva, di mana terlihat adanya korokan pada daun.

Kerusakan kedua (40%) disebabkan oleh Nezara viridula atau stink bug atau kepik hijau sebagai hama sekunder. Kepik hijau menjadikan tomat sebagai inangnya, sehingga menyebabkan perubahan warna khususnya pada daun yang menjadi kuning tidak merata dan akhirnya mengering. Kondisi diperparah oleh serangan Fermisia virgata atau kutu putih walaupun populasinya hanya 10%. Kutu putih tidak menjadikan tomat inangnya, namun populasi telurnya terlihat jelas pada permukaan daun.

Hama keempat adalah Streptopelia chinensis atau burung tekukur. Burung ini mencucuk dan memakan buah tomat pada saat akan matang hingga matang. Serangan burung pada buah yang hampir masak dan masak adalah 90%, sehingga burung tekukur dikatakan sebagai hama primer pada fase masak buah tomat.

Pengendalian hama yang ditawarkan oleh Siska adalah peningkatan sanitasi yang terfokus pada kebersihan tanah dan air, sehingga jalan patogen dan hama untuk menginvasi tanaman dapat dicegah, termasuk juga kebersihan alat mekanis seperti cangkul, arit, skop, dan sepatu. Jaringan tanaman yang mulai terserang sebaiknya dipotong dan dibakar untuk memusnahkan hama.

Sedangkan untuk burung tekukur dapat dilakukan dengan cara mekanis, yaitu melindungi buah yang hampir masak dengan kain, plastik tebal atau bahan lain yang sesuai untuk sarungisasi buah tomat. Cara tersebut tidak mengganggu keseimbangan ekologis yang ada dan buah tomat bisa matang dengan baik. Tapi, burung tekukur harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan makanan, mereka masih bisa makan jenis biji-bijian lainnya dan biji-biji rumput.

2008-08-31

Terong Wisnu Terkena Penyakit

Tanaman terong pertama kali di tanam di kebun Wisnu pada akhir Januari 2008. Bibit pertama dibawa oleh mas Tanto dari Yogyakarta. Bukan karena ingin memasukkan gen terong dari luar, namun karena bibit yang dijanjikan sudah pasti organik. Rasanya lebih baik mencoba proses bertani organik dengan bibit yang juga organik.

Saat ini, ada sekitar 60 tanaman terong kopek hijau keputihan setinggi rata-rata satu meter di atas lahan segitiga seluas 7x7,5x2 meter dan berdiameter 3 meter. Rata-rata ada sekitar 2-5 buah dalam satu pohon dengan panjang rata-rata 17 cm dan diameter 4 cm. Buah terung terbesar yang dihasilkan berukuran panjang 23 cm dan diameter 5,1 cm. Hari ini ada 24 buah terung yang dipanen dengan berat 2 kg. Sampai saat ini masih dikonsumsi sendiri oleh warga Wisnu dan keluarganya.

Secara ilmiah, jenis terong yang ada berbahasa Latin Solanum melongena var. serpentinum ini tergolong dalam keluarga Solanaceae genus Solanum. Lengkapnya kerajaan Plantae, kelas Magnolipsida, subkelas Asteridae, dan ordo Solanales. Berdaun hijau besar sekitar 20 cm dan berbunga ungu cantik dengan lima lobus.

Terong, ternyata menurut beberapa sumber berfungsi untuk mendongkrak gairah seksual pria karena efek afrodisiak. Selain itu terong juga berfungsi sebagai antioksidan dan dapat mencegah kanker karena mengandung monoterpen, memelihara kelangsingan tubuh karena sedikit mengandung kalori, dan untuk mengendalikan stres karena senyawa solanin yang bisa mengendurkan urat-urat saraf dan mempertahankan tekanan darah tidak naik-turun secara drastis. Penyakit lain seperti wasir, rematik, batuk, penyakit kulit, dan raja singa bisa disembukan dengan sayuran ini.

Kondisi tanaman terong di Wisnu saat ini tidak cukup baik karena terkena jamur Phytophthora parasitica. Hal tersebut diketahui menurut penelitian yang dilakukan I Gede Arda Pradipta, mahasiswa jurusan hama dan penyakit tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Udayana selama dua bulan di Wisnu. Ciri-cirinya adalah permukaan kulit buah terdapat bercak coklat kebasahan. Awalnya kecil dan berwarna coklat, lama-kelamaan menyebar ke seluruh permukaan tubuh buah dan berwarna hitam gelap.

Pada buah yang busuk terdapat spora berwarna putih dari patogen jamur. Diperkirakan cendawan masuk melalui lubang alami atau luka yang disebabkan oleh gigitan serangga atau alat pertanian dan berkembang biak dalam daging buah. Jamur tersebut memiliki sporangium berbentuk jorong sampai agak bulat dan mempunyai dua bulu cambuk (flagela). Jamur jenis ini merupakan jamur tanah yang dapat bertahan lama di dalam tanah yang mengandung bahan organik, terutama disebarkan oleh aliran air hujan dan air pengairan.

Namun menurut hasil pengamatan kasat mata oleh tim Wisnu, buah yang dihasilkan memang ada yang berbercak coklat, namun tidak sampai menghitam dan menyebar ke seluruh kulit permukaan. Selain itu, menurut “Keeping the Balance: Alternatif Pengendalian Hama” terbitan PAN Indonesia tahun 2001, layu jamur dicirikan dengan batang dan daun berubah menjadi kuning dan kering mulai dari ujung batang dekat tanah. Sementara, berdasarkan pengamatan batang dan daun yang menguning berada di bagian atas tanaman. Jadi kemungkinan terserang layu bakteri.

Secara ideal masih perlu dilakukan penelitian secara lanjut. Namun untuk sementara, pencegahan baik akibat jamur atau bakteri dapat dilakukan dengan memperbaiki pH tanah menjadi netral. Dan yang pasti memelihara tanaman terong dengan penyiraman dan pemberian kascing secara rutin karena kenyataannya tanaman yang ada selama ini belum terpelihara dengan baik. Hasilnya masih kecil-kecil ... Kita coba untuk musim tanam selanjutnya.

2008-08-28

Air dan Cinta Seorang Petani

Segarnya ...
Air mengalir di antara bedengan-bedengan kebun

Baru kali ini aku melihatnya
Setelah Papi Luhde diserahkan hak untuk mengurus kebun sayur
Padahal bedengan-bedengan itu sudah ada sejak akhir Januari lalu
Tapi air di saluran baru dialirkan sore itu, 26 Agustus 2008

Trimakasih ya Pi ...
Untuk bertani dan menjadi seorang petani memang tidak hanya memerlukan teori
Walaupun didapat di bangku kuliah
Atau hanya secara genetis berasal dari keluarga petani

Ternyata hal terpenting yang dibutuhkan adalah rasa cinta
Cinta terhadap tanah, terhadap air, terhadap tanaman
Dan cinta atas profesi sebagai petani yang sudah dipilihnya

Ada Markisa di Wisnu


"Hah ... sudah berbunga ... Ternyata bunganya cantik sekali"

"Iya, seperti bunga (apa namanya)"

"Cepet sekali ya, padahal baru enam bulan."

Pohon markisa yang sedang kami bicarakan itu kami beli di pasar Beringkit, dalam perjalanan pulang dari Timpag di Tabanan setelah mengikuti upacara pengabenan. Waktu itu kami membeli dua pohon yang tingginya hanya sekitar 20 cm dan masing-masing mempunyai tiga daun.

Saat ini ... satu pohon sudah merambat sampai sekitar enam meter, dan pohon satunya sekitar lima meter. Jumlah daunnya? Rata-rata ada 12 daun pada setiap meter batangnya, jadi pada satu pohon ada sekitar 70 daun. Selain itu, cabang pohon juga sudah mulai tumbuh.

Dua hari setelah percakapan di atas, bunga-bunga yang kami bicarakan sudah berubah menjadi buah.

Dan sembilan hari kemudian ... hari ini, 28 Agustus 2008, tiga buah markisa yang ada sudah berdiameter 4 cm dan berwarna hijau gelap. Tentu saja, selain ketiga buah itu ... bunga-bunga dan buah-buah lainnya juga sudah bermunculan.