2012-03-29

Ada Apa Saja di Denpasar?

Melewatkan 10.00-14.00 di 21 Maret 2012 dengan Dokar

Tuk tik tak tik
tuk tik tak tik

tuk tik tak tik tuk ...

Tuk tik tak tik
tuk tik tak
Suara sepatu kuda ...

World Silent Day kali ini 'dirayakan' dengan unik. Berkeliling kota Denpasar naik dokar, sambil membuat peta hijau. Selain tidak menimbulkan emisi karbon, naik delman istimewa juga mengingatkan kita pada satu sisi lain dampak 'pembangunan'. Ternyata, ada sekelompok orang yang termarjinalkan oleh kedatangan kendaraan bermotor: Pak Kusir.

Pak Nyoman, sudah berprofesi sebagai kusir sejak tahun 1963, setelah Gunung Agung meletus. Ketika itu, selain sepeda, dokar adalah kendaraan utama di Denpasar. Dokar mengalami kejayaan sampai 1980-an. Ada sekitar 150 armada dokar di seluruh kota. Memasuki 1990, jumlah armada mulai mengalami penurunan. Dokar menguasai jalan raya bersamaan dengan ojek dan bemo sebagai kendaraan umum. Semakin lama jumlah dokar semakin menurun ... terutama ketika motor bisa dibeli dengan sangat mudah dan murah. Saat ini jumlahnya tidak sampai 60 dokar di seluruh kota.

Saat ini jarang sekali orang Denpasar mau naik dokar - hanya orang tua, atau ada pesanan keliling kota mengantar anak sekolah atau turis. Namun bukan hanya itu yang menyebabkan jumlah dokar semakin menurun. Rumput untuk pakan kuda juga sudah semakin sulit didapat. Lahan yang dulunya ditumbuhi rumput, sudah berganti dengan bangunan. Sementara kalau harus beli dedak sangat sulit karena tidak ada pendapatan dari penumpang. Dan, sama seperti petani, profesi sebagai kusir tidak disukai oleh anak muda. Sebagian besar kusir yang ada adalah orang-orang tua. Ada anak muda, tetapi orang Jawa atau Lombok.

Empat jam bersama Pak Kusir dan kudanya yang sudah berumur 50 tahun ... jalur yang dilalui seperti garis merah pada gambar berikut, dimulai dari dan berakhir pada titik kuning, Jl. Kartini-Jl. Gajah Mada:


Apa saja yang bisa dilihat di Denpasar?



1. Bale bengong - sebelum mulai berangkat dari Jl. Kartini, foto dulu!
2. Pasar kecil, juga di Jl. Kartini







3. Museum Bali - ada Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan di depan museum. Ada pohon kamboja tua yang sangat artistik, dan di sebelahnya ada patung Budha. Nah, di salah satu pintu penghubung, ada patung perempuan yang mungkin umurnya sama dengan Museum Bali: 110 tahun! Hmmm ... udara sangat segar karena banyak pohon besar.





4. Penikmat jalan raya:
- Anak-anak senang melihat dokar ... "mau ikut dik?"
- Rambut dicat dan kuku berkutek ... keingingan anak atau orang tua ya?
- "Helm adik mana, Pak? Panas ..."



5. Air di jalan raya - ada pipis kuda dan genangan air ... padahal tidak hujan.



6. Lagi ... POHON BESAR! Dan, ada yang memanfaatkan batangnya untuk mengikatkan tali spanduk "usir segala yang jahat". Selain pohon, sungai di Denpasar juga terjaga ... tertata rapi dan tidak ada sampah. Hebat!!!



7. Kehidupan selalu diwarnai dengan dua hal yang berbeda dan mungkin memang saling melengkapi ... plastik! Jika barang-barang yang terbuat dari plastik dikeluarkan dari dalam rumah kita, seberapa kosong ya isi rumah kita?

Ternyata Denpasar adalah kota yang masih cukup indah. Apalagi jika jalan raya tidak terlalu dipadati kendaraan bermotor. Suatu saat, mungkin ... akan ada satu jalur di Denpasar yang hanya boleh dilalui oleh dokar, sepeda, dan pejalan kaki. Hmmm ... !!!

Program Bali Peduli

Pemberdayaan untuk Memperoleh Akses dan Kontrol terhadap Sumberdaya Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya bagi Komunitas Miskin dan Terpinggirkan, merupakan program untuk memberdayakan komunitas miskin dan terpinggirkan bisa memperoleh akses dan kontrol terhadap sumberdaya ekonomi, politik, sosial dan budaya. Pemberdayaan ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran kultural masyarakat dalam upaya mengurangi kemiskinan struktural dua kelompok masyarakat di Bali, yaitu Banjar Pengubengan Kauh dan Desa Adat Lembongan.

Program ini dilakukan sejak Nopember 2011, dan akan berakhir pada April 2012. Secara umum, program ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran kultural kelompok masyarakat marjinal. Langkah utama yang perlu dilakukan dalam upaya meningkatkan kemakmuran kultural satu kelompok masyarakat adalah:

Langkah 1. Mengenal dan memahami sumberdaya desa, terutama potensi yang selama ini dipinggirkan.
  • Pengenalan dan pemahaman atas potensi sumberdaya desa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat memetakan sumberdaya dan masalah yang ada. Selanjutnya, masyarakat diajak untuk membuat perencanaan, bagaimana mengelola sumberdaya yang dimiliki untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
  • Peran aktif kelompok sasaran sangat dibutuhkan dalam kegiatan ini. Ketidakaktifan atau kekurangaktifan dapat digunakan sebagai indikator tingkat kemiskinan struktural kelompok tersebut, terutama dalam hal kemiskinan terhadap akses sumberdaya politik, sosial dan budaya.


Langkah 2. Melakukan pelatihan atas bidang usaha yang sudah ditetapkan dalam perencanaan
Pelatihan ditujukan untuk memperkenalkan dan memahami bidang usaha yang akan dikembangkan. Bidang usaha ditetapkan berdasarkan urutan sumberdaya potensial, terutama sumberdaya yang belum dikelola secara optimal. Pelatihan ini dapat dilakukan beberapa kali karena bersifat teknis.


Langkah 3. Melakukan pelatihan manajemen usaha atas bidang usaha yang akan dikembangkan
Manajemen usaha penting untuk bisa mengelola bidang usaha secara berkelanjutan. Hal-hal yang penting untuk disepakati adalah rencana produksi dan pemanfaatan hasil produksi, serta analisis dampak usaha bagi masyarakat dan lingkungan.



Langkah 4. Pelatihan pengelolaan kelompok usaha
  • Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan manajemen usaha, yaitu menekankan pada pengelolaan atau manajemen kelompok. Sebisa mungkin, pelatihan ini menghasilkan Anggaran Dasar /Anggaran Rumah Tangga kelompok, sebagai dasar pijakan pelaksanaan usaha.
  • Anggaran Dasar Kelompok mencantumkan hal-hal seperti nama dan alamat kelompok, tujuan pendirian, keanggotaan, organisasi dan pengelolaan, tugas dan pertanggungjawaban pengurus, pengambilan keputusan, permodalan, kegiatan usaha, ketentuan pinjaman modal, pengelolaan keuangan, sisa hasil usaha, dan pembubaran kelompok.

Hal terpenting yang perlu dilakukan sebelum melakukan keempat pelatihan adalah sosialisasi program kepada seluruh masyarakat desa atau banjar tempatan. Hal ini ditujukan untuk menghindari adanya kecurigaan dan konflik yang mungkin timbul akibat kecurigaan yang ada. Namun, kegiatan sosialisasi juga bisa dilakukan di antara pelatihan-pelatihan yang direncanakan berdasarkan pertimbangan tertentu. Misalnya, kelompok masyarakat sasaran ingin membuktikan terlebih dulu bentuk nyata rencana program. Hal ini muncul akibat hubungan sosial yang kurang seimbang selama ini antara kelompok sasaran dengan anggota masyarakat lainnya, terutama dengan pemimpin lokal.

Kegiatan lanjutan yang juga perlu adalah monitoring dan evaluasi atas kegiatan yang sudah dilakukan. Hal ini penting untuk menilai keberhasilan program, yaitu meningkatkan kemakmuran kultural dan struktural kelompok masyarakat sasaran, dalam hal akses dan kontrol terhadap sumberdaya ekonomi, politik, sosial dan budaya.

2011-11-03

Keluarga Baru

Telah lahir dengan selamat pada tanggal 3 Nopember 2011, jam 08.30 di halaman selatan kantor Yayasan Wisnu. Laki-laki, panjang 80 cm, warna coklat kehitaman. Ajaib! Tidak sampai satu jam, sang bayi sudah langsung bisa berjalan. Terima kasih untuk semua dukungan alam semesta ...

2011-10-10

Beradaptasi terhadap Perubahan Iklim

Saat ini, sekitar 40% lahan pertanian di Bali mengalami kekeringan. Hal itu terjadi akibat panas yang berkepanjangan, diperkirakan akibat perubahan iklim. Bukan hanya itu, tinggi muka air bendungan juga sudah mengalami penurunan, contohnya di bendungan Palasari. Akibat lanjutannya adalah, lahan kritis semakin luas dan petani mengalami gagal panen yang berdampak pada penurunan pendapatan ekonomi.

Kondisi tersebut disampaikan oleh para peserta diskusi terfokus tentang "Adaptasi Perubahan Iklim", pada 22 September 2011 di Yayasan Wisnu. Diskusi diselenggarakan oleh The Samdhana Institute dan Stockholm Environment Institute. Peserta terdiri dari beberapa komponen, yaitu pemerintah daerah, akademisi, masyarakat adat, dan LSM.

Terkait dengan perubahan iklim, ada beberapa, bahkan banyak hal yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak, terutama pemerintah daerah seperti Dinas Kehutanan dan BLH. Namun kemudian dikritisi bahwa kebijakan yang dikeluarkan belum diimplementasi secara sesuai dan belum menjawab permasalahan dan kekhawatiran yang ada. Negara banyak membuat aturan, namun juga melanggar aturan yang dibuat. Ditambah lagi, tidak ada pihak yang mengatur pelaksanaan peraturan tersebut sehingga kehidupan saat ini menjadi tidak teratur. Contohnya, berdasarkan hasil kajian, Bali sudah kelebihan 9800 kamar hotel. Namun hal tersebut hanya sebatas kajian, sehingga perebutan atas sumberdaya lahan, air, dan energi tetap terjadi bahkan semakin parah. Sampah juga semakin menumpuk tanpa pengelolaan yang baik.

Fakta yang mendukung kondisi di atas semakin parah adalah, luasan bumi tetap namun jumlah penduduk semakin bertambah, saat ini mendekati angka 6 milyar. Khusus Bali, ada 4 juta orang yang tinggal di atasnya, padahal kapasitas daya tampung dan daya dukung optimal hanya untuk 1,5 juta orang. Kehidupan setiap individu kemudian bersifat ambigu, hanya berteori tanpa dipraktekkan. Contohnya, Wisnu selalu berbicara untuk mengurangi sampah plastik, tapi salah satu kudapan yang disajikan memakai plastik. Hehe ... Padahal hidup yang benar berdasarkan ajaran Bali haruslah ngeret indria, bukan ngulurin indria seperti banyak dilakukan saat ini.

Salah satu hal penting yang bisa dilakukan dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah laku hidup santun bersama. Caranya, dengan melakukan pembatasan diri, kemudian membiasakan diri mempraktekkan laku santun. Pembiasaan diri yang sangat mudah untuk dilakukan misalnya menanam pohon atau melepas burung pada setiap hari lahir, atau membawa tas belanja sendiri ketika berbelanja. Pembatasan dan pembiasaan diri pada akhirnya perlu dilembagakan dalam aturan adat.

Pembicaraan di tingkat provinsi seperti diceritakan di atas kemudian dilanjutkan ke tingkat desa. Desa yang dipilih adalah Kiadan Pelaga di Petang, Badung. Pilihan didasarkan pada kebutuhan untuk melihat dampak perubahan iklim yang sudah dirasakan oleh anggota subak abian. Sebagai informasi, Kiadan Pelaga merupakan desa penghasil kopi yang petaninya tergabung dalam Subak Abian Sari Boga. Diskusi ini dilakukan pada 24 September 2011.

Sedikit berbeda dengan pembicaraan tingkat provinsi yang bersifat umum, peserta diskusi terfokus kelompok subak lebih menceritakan secara detil hal-hal yang sudah dirasakan. Sudah dua kali para petani kopi gagal panen karena curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan sehingga menggugurkan bunga kopi. Dan, jika kemarau, panas matahari sangat terik sehingga melayukan bunga kopi. Para petani pada akhirnya harus mencari kerja sampingan sebagai buruh bangunan, sampai ke luar desa. Bagi yang tidak bisa, harus mengurangi pengeluaran untuk konsumsi harian.

Dirasakan juga, ada banyak tanda alam yang mulai hilang. Misalnya, para orang tua selalu melihat kabut atau awan yang menyelimuti gunung untuk mengetahui apakah hujan akan turun di Kiadan. Namun, sejak dua tahun terakhir, kabut atau awan di sekitar gunung tidak lagi bisa dijadikan patokan. Hujan datang tiba-tiba tanpa tanda-tanda, atau jika ada awan yang menyelimuti gunung, belum tentu juga hujan akan turun.

Walaupun demikian, para petani tetap melakukan upaya untuk tetap bisa bertahan di tengah ketidakjelasan cuaca, baik secara niskala maupun sekala. Ritual upacara memohon keselamatan tanaman tetap dilakukan, mulai dari nyaap (sebelum menanam), peneduhan (setelah tanaman tumbuh), nglamping aturin (setelah panen), ngusaba, dan nangsil yang dilakukan dua tahun sekali. Sementara, secara sekala di antaranya
melalui reboisasi hutan, penanaman berbagai jenis tanaman bambu, dan mengembangkan jasa lingkungan melalui ekowisata.

2011-10-05

Mengolah Kekayaan Indonesia: UMBI


Indonesia adalah negara yang dianugerahi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Satu di antaranya adalah UMBI, seperti ubi, talas, gadung, dan ketela ungu. Masyarakat Dani di Wamena, megenal ratusan jenis umbi - mereka menyebutnya hipere. Sementara di Yogyakarta, sedikitnya ada 65 jenis umbi yang dikenal. Bali sendiri, mempunyai sedikitnya 75 jenis umbi yang bisa diolah!


Sayangnya, saat ini puluhan bahkan ratusan jenis umbi tersebut berhasil 'dikalahkan' oleh satu jenis pangan yang sangat terkenal dan kita dibuat tergantung padanya: BERAS. Melalui sistem dan kebijakan yang telah dibangun puluhan tahun sejak zaman 'penjajahan Belanda', masyarakat yang memiliki puluhan bahkan ratusan umbi dikatakan miskin jika tidak mengkonsumsi beras. Padahal, tidak mungkin tanah kering di Papua atau di Bali bisa ditanami padi. Akibatnya, ketergantungan pada pihak luar menjadi sangat tinggi karena tidak mau dikatakan miskin.

Kita bisa belajar dari masyarakat adat Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Sejak hampir seabad lalu, tahun 1924, mereka selalu mengkonsumsi rasi - nasi singkong. Beras yang dinilai sebagai simbol penjajahan, dilawan dengan kearifan "tak punya sawah asal punya padi, tak punya padi asal punya beras, tak punya beras asal bisa menanak, tak menanak nasi asal makan, tak makan asal kuat". Artinya, makan tidak harus nasi ... bisa makan apa pun asalkan kuat. Kearifan ini digunakan untuk melawan Belanda yang ketika itu menguasai distribusi beras, sementara lahan di desa tersebut tidak cocok ditanami padi.

Rasi adalah bentuk perlawanan terhadap penjajahan, juga bentuk terhadap kemandirian pangan. Mengkonsumsi pangan yang tumbuh dari lahan sendiri artinya tidak tergantung pada suplai bahan pangan dari pihak luar. Dengan tidak tergantung pada satu jenis pangan, apalagi yang berasal dari luar, kita semakin mampu beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang saat ini mulai dirasakan.

Maka, Minggu 25 September 2011 dipilih sebagai hari untuk mengadakan pelatihan pengolahan umbi. Kegiatan dimulai pada jam sembilan padi, difasilitasi oleh Ibu Sri Mulyani dari Fakultas Teknologi Pertanian Unud. Ibu Sri ditemani rekannya dari fakultas yang sama, Ibu Puspawati dan Ibu Sri Wiadnyani. Kegiatan diikuti oleh ibu-ibu dan pemudi dari Kiadan Pelaga, Dukuh Sibetan, Tenganan Pegringsing, Selat Buleleng, dan Pengubengan Kerobokan. Ditambah mereka yang tertarik dengan diversifikasi olahan umbi.



Ada banyak olahan umbi yang bisa dibuat, namun ketika itu hanya dibuat beberapa olahan, yaitu kue mangkok ubi ungu, chips talas, cookies singkong, brownies ubi ungu, dan selai ubi ungu. Hampir semua berbahan dasar tepung umbi, jadi dilatih juga cara membuat tepung umbi. Untuk singkong dan ubi ungu melalui proses yang sama, yaitu umbi bisa langsung dikeringkan dengan oven atau matahari setelah dicuci dan dipotong kecil tipis, sebelum dijadikan tepung. Namun untuk talas, talas yang telah dicuci dan dipotong-potong harus direndam dulu dalam larutan garam 7,5% selama 12 jam sebelum dijemur. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan getah yang bisa menimbulkan rasa gatal di lidah.



Nyam ... menjelang makan siang, semua olahan sudah bisa dicicipi. Semua habis tak bersisa. Satu hal yang menjadi PR: adakah kelompok yang mau serius membuat olahan umbi, sehingga bisa menarik minat banyak orang untuk mulai mengkonsumsi umbi?